Film layar lebar yang diangkat dari novel itu memang sudah cukup lama. Laskar Pelangi judulnya. Kisah inspiratif seorang bocah di Belitung berjuang mengenyam pendidikan di sekolah sederhana itupun ‘mendunia’.
Tak ada kesan bagi Saya dari awal kemunculan film itu tahun 2015. Kesan itu jungkir balik sejak pertama kali menginjakkan kaki ke Kabupaten Belitung atau Belitong, provinsi Bangka Belitung beberapa hari lalu.
Saya berkesempatan berkunjung ke sekolah yang terdapat dalam film Laskar Pelangi. Dua ruang kelas dari kayu berdiri di atas tanah yang agak tinggi bernama Bukit Raya, Belitung Timur. Bangunan SD itu hanya replika dari kisah masa kecil sang novelis, Andrea Hirata saat mengenyam di sekolah yang bernama SD Muhammadiyah Gantung.
Meski cukup jauh dari pusat kota, wisatawan yang Saya yakin dari luar Belitong begitu antusias menyambangi ‘sekolah’ di tengah cuaca yang terasa cukup panas. Terbesit tanya, untuk apa jauh-jauh hanya sekedar melihat replika. Meski ada spot wisata Dermaga Kirana Rumah Keong persis di seberangnya, tetap saja membuat Saya penasaran. Tak jauh, terdapat museum kata Andrea Hirata.
Dari beberapa sumber berita yang Saya baca, peningkatan kunjungan pelancong bak roket. Dikatakan Agus (50) selaku pengelola Rumah Keong, meroketnya wisatawan ke Belitong tak lain efek dahsyat film Laskar Pelangi. “Sejak film Laskar Pelangi, Pak. Wisawatan meningkat,” ujarnya saat Saya melihat Rumah Keong yang terbuat dari rotan sintetis.
Rasa penasaran Saya tadi terjawab. Ucapan Agus penegasan pertama kepada Saya majunya periwisata Belitong dari hebatnya efek film karya sutradara Riri Riza yang diangkat dari novel Andrea Hirata itu. Saat menuju SD Laskar Pelangi, terlihat rombongan pesepeda. Dipastikan pelancong dari luar Belitong. Pengemudi travel yang membawa Saya pun menyampaikan yang dikatakan Agus. Setelahnya, hal serupa terucap dari beberapa warga.
Hari kedua di Belitong semakin meyakinkan Saya, begitu majunya pariwisata daerah kampung eks Gubernur DKI Jakarta, Ahok ini. Kawasan wisata andalan Tanjung Kelayang, desa Keciput, kecamatan Sijuk tempat berikutnya. Puluhan perahu motor sandar di bibir pantai. Wisatawan tampak bergegas naik.
Riko (32), sang ‘sopir’ perahu yang Saya tumpangi sedikit bercerita melonjaknya wisatawan yang tak lain efek film Laskar Pelangi. Buktinya, Ia rela banting stir dari nelayan. Bapak dua orang anak ini hanyalah pekerja pemilik perahu. Meski begitu, pendapatannya dibilang lumayan dibanding sebagai nelayan. Seingatnya, ada sekitar 200 perahu motor melayani pelancong.
Saya melihat perahu kebanyakan diisi rombongan wisatawan dengan seragam khasnya. Puluhan perahu hilir mudik. Pulau Lengkuas menjadi tujuan. Disini, berdiri mercusuar yang dibangun tahun 1882. Mercusuar tersebut terletak di lepas titik utara pelabuhan Belitung, menghadap Selat Karimata, yang menghubungkan Laut Tiongkok Selatan dengan Laut Jawa di antara Sumatera dan Kalimantan.
Mercusuar dibangun oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama ZM Willem III. Air lautnya jernih. Pasirnya putih. Begitu eksotis.
Belitong. Daerah yang awalnya tidak dikenal kini jauh berkembang. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan salah satu pemicunya adalah Laskar Pelangi. Setidaknya, Belitong salah satu contoh pentingnya mengangkat kearifan lokal untuk kemajuan daerah.
Tentunya, harus dikemas sedemikian rupa. Fasilitas pendukung tak kalah penting, seperti hotel dan kuliner. Indonesia memang terkenal keindahan pulau-pulaunya. Dan tanpa ragu Saya merekomendasikan Belitong sebagai salah satu tujuan wisata Anda.
Penulis : Rolan
Pemimpin Redaksi sinarjambi.com







Discussion about this post