SINARJAMBI.COM – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan komitmen pihaknya dalam mendukung pengembangan inovasi ekosistem keuangan digital yang saling terintegrasi. Ini tak lepas dari semakin majunya dunia teknologi informasi.
Di dunia industri jasa keuangan (IJK) telah banyak mengembangkan layanan minim kontak fisik. Seperti pinjaman online (pinjol) yang lagi marak. Meski demikian, masyarakat juga diminta peduli dengan resiko yang akan timbul saat bersentuhan dengan dunia serba digital tersebut.
Kemajuan teknologi informasi, tambah Wimboh Santoso mendorong maraknya layanan digital yang dikenal dengan startup, selain fintech yang mempermudah masyarakat mengakses dengan cepat dan murah. Tumbuhnya inovasi di atas, kata Wimboh tak lepas dari dukungan kebijakan OJK dan semua pemangku kebijakan.
“Jadi kebijakan kita bukan kebijakan yang membatasi, tetapi justru mendorong dan sangat mendukung hadirnya digital ini, karena masyarakat akan mendapatkan manfaat yang paling besar.”
“Terutama di sektor jasa keuangan, OJK sangat berperan strategis untuk mendukung pengembangan inovasi dalam suatu ekosistem keuangan digital secara terintegrasi. Lembaga Jasa Keuangan Indonesia didorong terus secara relevan dari masa ke masa dan responsed dengan perkembangan teknologi.”
“Sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat untuk menciptakan tenaga kerja, untuk pertumbuhan ekonomi dan membawa seluruh masyarakat kedalam jasa keuangan,” ujar Wimboh Santoso di acara “OJK Virtual Innovation Day 2021” yang dibuka Presiden Joko Widodo di istana negara, Senin (11/10/2021) pagi.
Kepada Presiden, Wimboh Santoso juga menyampaikan pihaknya bekerja sama dengan negara lain yang mempunyai kewenangan dalam mengatur sektor keuangan. Bahkan pihaknya didukung World Bank dan Asian Development Bank yang telah membantu mengambangkan perbaikan kebijakan agar relevan dan sejalan dengan kebijakan secara global.
Dalam kebijakan, OJK mempercepat transformasi digital sektor keuangan terfokus pada dua hal. Yakni yang pertama mendukung memanfaatkan teknologi digital industri jasa keuangan dalam rangka layanan kepada masyarakat yang murah dan kompetitif. Ini tak lepas dari persaingan memasuki secara global tanpa ada batasan ruang dan waktu.
“Yang kedua, memberikan kemudahan dan memperluas akses masyarakat yang unbankable dan para pelaku UMKM untuk dapat masuk ke dalam ekosistem digital. Dan kami berharap berbagai kebijakan ini juga dapat dinikmati bukan saja sektor keuangan, tapi juga pengguna sektor keuangan maupun pemerintah, Bapak Presiden.”
“Sehingga kemarin kami menerbitkan kebijakan yang kita sebut bank digital yang memberikan ruang bank untuk masuk ke dalam ekosistem digital. Serta pengembangan produk dan layanan bank berbasis digital. Baik bank skala besar, menengah dan kecil termasuk BPR. BPR akan mempunyai ruang luas dan aturan yang sama dengan bank-bank yang lain,” jelas Wimboh Santoso.
Tak sampai disitu, pihaknya juga membawa layanan digital ini ke non bank, termasuk lembaga keuangan mikro. Ke depan, OJK terus mengembangkan hal di atas dan membuka ruang lebih besar lagi kepada UMKM untuk go digital agar mendapatkan manfaat yang lebih besar.
Dari segi pemasaran, UMKM juga sudah digiring OJK untuk memasuki dunia e-commerce melalui kampus UMKM, sehingga membantu masyarakat UMKM menjadi ekosistem e-commerce agar bisa dijual ke seluruh dunia.
“Hadirnya digital sudah memberikan fakta bahwa inklusi keuangan kita sudah meningkat cukup besar. Di mana tahun 2019 kita tercatat 76,19 persen dan dibandingkan tahun 2016 hanya 67,8 persen. Kami yakin di tahun 2024 kita dapat mencapai target 90 persen sebagaimana arahan bapak Presiden. Dengan hadirnya digitalisasi, kita ingin menyampaikan bahwa seluruh anak SMP harus sudah masuk dalam ekosistem tabungan yang berbasis digital,” harapnya.
Mengantisipasi pesatnya digitalisasi ini, OJK juga terus memitigasi resiko yang muncul sehingga siber security ditingkatkan. Selain itu, OJK terus meningkatkan literasi masyarakat terkait resiko tersebut.
“Pada pembukaan Innovation Day ini kami diikuti oleh seluruh masyarakat pelaku dan juga pemangku kepentingan lainnya sekitar 1000 orang.”
“Dan nanti ini akan dilakukan berbagai diskusi dan dialog yang bisa memberikan pemahaman kita semua, bagaimana membawa digital ini dalam kehidupan sektor keuangan maupun kehidupan kita sehari-hari,” pungkas Wimboh Santoso. (Rolan)







Discussion about this post