SINARJAMBI.COM – Seri pamungkas dari rangkaian acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) menghadirkan perbincangan cukup menarik dan seru dari dua orang milenial yang sukses di dunia investasi. Mereka adalah financial planner Safir Senduk dan investor muda yang juga founder Ternak Uang, Timothy Ronald.
Melalui live Bank Indonesia (BI) Channel YouTube, bincang-bincang kedua investor muda sukses itu dipandu oleh Renol Surapradja sebagai MC.
Kedua investor muda ini dengan bahasa gamblang memberikan tips untuk memulai berinvestasi bagi milenial. Dikatakan Safir Senduk, langkah awal berinvestasi yakni dengan mengenali produk-produk investasi. Untuk mudahnya, Ia mengelompokkan produk investasi menjadi dua yakni pendapatan tetap (fixed income) dan pertumbuhan (growth income).
“Pendapatan tetap itu kalau kita punya uang kita taruh di deposito selama 12 bulan, setelah 12 bulan uangnya balik terus kita dapat bunga itu adalah pendapatan tetap. Contoh pendapatan tetap lain kita punya rumah, kita sewakan rumah kita dapat uang sewa dan itu adalah pendapatan tetap. Kita beli obligasi, ORI misalnya kemudian uang kita dipinjam oleh negara selama 3 tahun setiap bulan kita diberi bunga dan itu adalah pendapatan tetap.”
“Growth income adalah misalnya kita beli rumah, kemudian setelah kita beli berharap rumah harganya naik. Atau kita beli saham berharap harganya naik. Kita beli emas berharap harganya naik, walaupun itu juga ada resiko harganya bisa turun,” jelas Safir Senduk seperti disaksikan sinarjambi.com, Jumat (13/8/2021) pagi.
Dirinya pun memberi saran apakah harus memilih pendapatan tetap atau pertumbuhan. Usia muda disarankan memilih invetasi pertumbuhan. Meski tetap ada resiko, namun uang yang ditanamkan mungkin belum akan dipakai seketika. Sementara, bagi usia lanjut disarankan memilih investasi tetap.
Ia mengemukakan analogi investasi pendapatan sebagai buah pisang yang murah dan mudah didapat. Dan investasi pertumbuhan sebagai buah durian yang sulit didapat dan sulit dibuka. Namun, pemilihan investasi harus tahu resiko dan mengukur kemampuan keuangan.
“Jadi intinya ada dua (tipe) orang yakni pro aktif dan reaktif. Yang paling penting adalah harus pro aktif dalam berinvestasi. Pro aktif adalah dia fokus terhadap apa yang bisa dia lakukan. Reaktif adalah fokus apa yang ada di luaran.”
“Pro aktif nomor satu adalah pentingnya melihat apakah produk yang bisa dimengerti atau tidak. Tapi kedua adalah fokusnya disiplin meningkatkan berapa jumlah invest setiap bulan. Jumlah yang anda invest itu jauh lebih penting daripada return investasi yang anda kejar,” jelas Safir Senduk.
Cerita cukup inspiratif disampaikan Timothy Ronald. Di usia 15 tahun dirinya sudah mengenal dunia investasi lewat membaca buku orang-orang sukses seperti pendiri Microsoft Bill Gates. Ia pun terdorong jadi orang kaya.
“Karena pas kecil cita-citanya itu pengen jadi orang kaya. Setelah saya baca menarik nih, seperti Bill Gates mendirikan perusahaan besar Microsoft. Dan si (Warren) Buffet ini cuma invest di Coca Cola. Lalu waktu itu dia menjadi orang kaya nomor satu di dunia. Nah di situ saya berpikir, oke saham ini bisa bikin orang jadi kaya. Sejak itu aku dedikasikan hidup Aku belajar saham.”
“Waktu itu (usia 15) minjem KTP, karena waktu itu untuk bisa bikin akun akuitas (saham) tu minimal punya KTP. Jadi waktu itu pakai nama mama dulu,” ujarnya membuat Ronal Surapraja kagum.
Di usia 15 tahun tentu dirinya tak punya uang mencukupi. Tak hilang akal, beragam barang miliknya dijual sebagai modal awal berinvestasi. Jatuh bangun berinvestasi pun sudah dialaminya.
Timothy meyakinkan jika memulai investasi saat ini tidak butuh modal besar. Ditambah, semakin mudahnya mengakses beragam aplikasi dan belajar manual lewat internet.
“Kalau investasi itu butuh modal besar atau nggak, saya bilang nggak. Karena banyak surat utang (negara) yang bisa dimulai dari satu juta. Apalagi saham, saham tuh sekarang sudah murah banget, banyak sekuritas yang bisa buka 100 ribu.”
“Saya pas baru mulai satu lot itu 500 lembar saham, sekarang itu sudah 100 lembar, jadi lebih kecil lagi. Jadi tidak ada alasan lagi (tidak berinvestasi). Saham yang ratusan perak pun ada. Sudah bisa pegang kepemilikan saham di perusahaan publik dengan uang 20 ribu, 30 ribu.”
“Ilmu itu berdampingan dengan penghasilan. Saya merasa uang itu akan datang yang mempunyai skill, kalau kalian punya skill, uang itu akan datang kepada kalian,” ujar Timothy.
Sebelumnya, Like It seri 3 menampilkan talk show Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat dan Sekretaris Lembaga Penjamin Simpangan Dimas Yuliharto. Kedua narasumber membahas “Bersama Membangun Negeri Menjadi dengan Menjadi Investor di Negeri Sendiri”. (Rolan)







Discussion about this post