SINARJAMBI.COM – Ternyata, salah satu faktor yang mempengaruhi warga mengenal dunia pasar modal adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah masing-masing. Semakin tinggi IPM, maka sejalan dengan jumlah investor.
Dikutip dari laman BPS bahwa IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Dimana IPM dibentuk oleh 3 dimensi dasar yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahun dan terakhir standar hidup layak.
Disampaikan Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Jambi, Fasha Fauziah bahwa pihaknya cukup gencar dalam meningkatkan literasi dan edukasi pasar modal ke masyarakat. Dirinya mengungkapkan salah satu kendala belum tingginya minat masyarakat bermain saham.
“Kalau bicara terkait kendala menurut Saya mungkin lebih kepada teknis ya. Jadi kalau secara program kita, lumayan cukup banyak program yang kita gencarkan. Untuk efektifitas program yang digencarkan Bursa Efek itu seperti apa sih, karena dalam pasar modal ini elemennya tidak hanya Bursa Efek, tapi juga ada dari teman-teman perusahaan sekuritas, karena teknisnya langsung dilakukan teman-teman dari perusahaan sekuritas atau anggota dari Bursa Efek Indonesia.”
“Kalau dari sisi potensi, potensi di Jambi ada. Salah satu yang harus kita dorong dan Kita tingkatkan itu dari sisi indeks pembangunan manusia,” jelas Fasha di media gathering BEI Jambi bersama wartawan Pasar Modal Jambi, di gedung Mahligai Bank Jambi, Kamis (20/7/2023).
Faktor lainnya, kata Fasha yakni bagaimana suatu daerah itu perekonomiannya tumbuh dengan baik. Mengedukasi warga juga sangat penting, baik di lowest level sampai highest level. Jangankan lowest level, untuk highest level juga butuh waktu memberikan pemahaman.
Pasalnya, rendahnya IPM di satu daerah bisa menjadi sasaran pelaku penipuan sektor jasa keuangan yang ilegal. Singkatnya, warga dengan tingkat pendidikan yang rendah cukup beresiko investasi bodong.
“Dalam tanda kutip ketika indeks pembangunan manusia itu meningkat, pasti diikuti pertumbuhan ekonomi dan sebagainya. Itu ada timeline-nya. Ini salah satu tantangan buat kita sebenarnya, jika kita terjun di masyarakat.”
“Apalagi jika indeks pembangunan manusia cukup rendah, itu akan mempengaruhi misalnya investasi bodong masuk ke sini. Dan jika kita bicara investasi, ada yang mereka sudah pernah terkena investasi bodong akan trauma. Jadi kita butuh penyadaran lagi bagi mereka yang mana investasi legal. Bahkan untuk nama Bursa Efek pun mereka (warga) banyak yang belum tahu,” jelas Fasha panjang lebar. (Rolan)







Discussion about this post