SINARJAMBI.COM – Pertumbuhan ekonomi global diprakirakan melambat disertai dengan kecendurangan risiko lebih rendah pada tahun 2024. Meningkatnya ketidakpastian global seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik disertai arus modal dari negara Emerging Market ke Negara Maju mendorong penguatan mata uang dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia yang mengakibatkan tetap tingginya inflasi global.
Pertumbuhan ekonomi global diprakirakan melambat disertai dengan kecendurangan risiko lebih rendah pada tahun 2024. Meningkatnya ketidakpastian global seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik mengakibatkan tetap tingginya inflasi global.
“Inflasi yang persistent di AS mendorong kebijakan Fed Funds Rate (FFR) higher for longer yang diikuti peningkatan yield obligasi dan mendorong capital outflow dari negara Emerging Market termasuk Indonesia,” ujar Kepala Perwakilan BI provinsi Jambi di forum ekonomi dan bisnis di ruang Kajang Lako Kantor Perwakilan BI provinsi Jambi, Selasa (31/10/2023).
Namun demikian ditengah tantangan dinamika eksternal tersebut, kinerja rupiah cenderung lebih baik dibandingkan negara di Kawasan dan Global. Lebih lanjut, cadangan devisa Indonesia tetap tinggi sebesar 134,9 milyar USD. Setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor di atas standar internasional yaitu 3 bulan impor.
Pertumbuhan Ekonomi triwulan III 2023 diprakirakan termoderasi pada triwulan III 2023, sejalan dengan perlambatan kinerja pada LU Pertanian dan LU Pertambangan (dipengaruhi base effect). Sementara itu, pertumbuhan triwulan IV 2024 diprakirakan tumbuh terakselerasi didukung penyelenggaraan Hari Raya Natal dan Tahun Baru yang mendorrong peningkatan aktivitas ekonomi domestik sesuai dengan pola musimannya.
Pertumbuhan Ekonomi keseluruhan tahun 2023 diprakirakan tumbuh melambat pada rentang 4,05%-4,85%, sejalan dengan perlambatan kinerja pada LU Pertambangan. Sedangkan, mencermati perkembangan dinamika ekonomi global pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi 2024 diproyeksikan tumbuh pada rentang 4,70%5,20%.
Prakiraan tersebut didorong oleh beberapa faktor yaitu:
• Tetap kuatnya konsumsi domestik ditengah dinamika eksternal menopang kinerja LU Perdagangan, LU Industri Pengolahan, LU Akmamin dan LU Transportasi & Pergudangan.
• Rampungnya pengerjaan jalur alternatif batubara tahap 1 pada akhir
tahun 2023 diprakirakan mendorong kinerja LU Pertambangan.
• Berlanjutnya pengerjaan berbagai proyek infrastruktur di Provinsi Jambi diprakirakan mendorong kinerja LU Konstruksi.
• Tetap kuatnya permintaan dari India sebagai salah satu mitra dagang utama.
Namun demikian, terdapat beberapa risiko ke depan yang perlu menjadi perhatian dan dimitigasi bersama di antaranya:
• Risiko iklim, berlanjutnya anomali cuaca di tengah fenomena El-Nino yang mengganggu produktivitas Tabama, Hortikultura dan TBS Kelapa Sawit.
• Kebijakan EU mengenai Deforestation Free Supply Chain (DFSC) mendorong pengetatan kegiatan ekspor kehutanan.
• Berlanjutnya tren konversi kebun karet ke komoditas lainnya mengakibatkan keterbatasan bahan baku dan penutupan pabrik pengolahan karet alam.
• Permintaan dari Tiongkok yang lebih lemah dari prakiraan imbas gangguan pada sektor properti (risiko spillover krisis Evergrande).
Inflasi gabungan Kota Jambi dan Kabupaten Bungo secara keseluruhan pada tahun 2023 diprakirakan akan berada dalam sasaran target (potensi bias bawah) sedangkan inflasi 2024 diarahkan menuju sasaran target 2,5%±1%.
Prakiraan tersebut didorong oleh beberapa faktor yang diprakirakan menjadi penahan inflasi yaitu:
• Harga minyak dunia diprakirakan relatif rendah dan melandai
• Upaya Pemerintah Pusat untuk menjaga inflasi administered price
• Koordinasi pengendalian inflasi TPIP dan TPID yang semakin membaik
• Kondisi pasokan komoditas hortikultura yang diprakirakan tetap terjaga sejalan dengan penguatan kebijakan stabilisasi pasokan & harga pangan yang semakin intensif dan masif
Namun demikian, terdapat beberapa risiko ke depan yang perlu menjadi perhatian dan dimitigasi bersama di antaranya:
• Risiko iklim, berlanjutnya anomali cuaca di tengah fenomena El-Nino yang mengganggu siklus pola tanam yang berpotensi mendorong inflasi komoditas volatile foods
• Rantai pasokan secara global dalam pemulihan
• Konsumsi diprakirakan meningkat pada 2024 yang berisiko mendorong inflasi inti 4. (*)






Discussion about this post