Sekelebat saja ide ini muncul di kepala Saya. Bagaimana kalau turis asing yang menuju destinasi unggulan terutama Bali, diwajibkan transit nginap di provinsi lain yang punya destinasi wisata juga. Terserah mau berapa hari. Pembagian transit melihat geografis negara asal turis.
Misal, bule Australia hendak ke Bali diwajibkan transit ke NTT, NTB, Papua atau Sulawesi. Turis Tiongkok transit di pulau Kalimantan. Turis Singapura, Malaysia, Thailand dan sekitarnya transit di pulau Sumatera. Begitu juga turis Arab, India dan Afrika.
Tujuannya satu : berbagi ‘kue’ turis. ‘Kue’ yang Saya maksud tak lain devisa yang masuk ke satu wilayah. Selama ini Bali begitu menikmati devisa dari turis yang berbondong-bondong datang.
Memang terkesan memaksa dan sangat dipaksakan ide ini. Gejolak sudah pasti muncul. Entah itu dari turis asingnya maupun daerah tujuan turis itu. Penurunan kunjungan turis ke Bali tentu terjadi.
Namun, bukankah Bali sudah sejak lama mulai kerepotan akibat dari membludaknya ‘invasi’ turis alias over tourism. Belum ditambah wisatawan Nusantara. Mulai dari kemacetan, tindakan kriminal, masalah lingkungan sampai penyalahgunaan visa.
Dari data Kementerian Pariwisata tahun 2025 tak kurang 7,05 juta turis datang langsung ke Bali. Australia duduk di urutan pertama dengan proporsi kehadiran tertinggi. Disusul wisatawan dari India, Tiongkok, Korea Selatan, Inggris dan beberapa negara Asia serta Eropa lainnya.
Jika digabung dengan wisatawan nusantara, total pergerakan orang yang berlibur ke Bali pada 2025 mencapai kisaran 16,33 juta kunjungan keseluruhan. Angka di atas hampir empat kali lipat jumlah penduduk Bali sekitar 4,5 juta jiwa.
Mana tahu, dengan ‘dipaksa’ nginap di provinsi tertentu terlebih dahulu, akan mendongkrak PAD. Sekaligus membuka mata turis bahwa Indonesia tidak hanya Bali. Masih banyak destinasi lain yang bisa ditawarkan.
Jika bicara pantai yang tak kalah indah, di Sumatera banyak. Ada Aceh, Sumut, Sumbar sampai Lampung. Di NTT, NTB, Sulawesi dan Papua tidak usah diragukan.
Pulau Kalimantan memiliki banyak pantai indah dengan pasir putih dan air laut yang jernih. Beberapa pilihan terbaik yang terkenal antara lain pulau Derawan dan pantai Lamaru di Kaltim. Pantai Temajuk di Kalbar serta pantai Angsana di Kalsel.
Dari infrastruktur bandara, daerah yang Saya sebutkan di atas sepertinya sudah sangat memadai didarati pesawat berbadan lebar. Statusnya pun rata-rata saat ini adalah bandara internasional. Mulai dari Bandara Iskandar Muda di Aceh, Kuala Namu di Sumut, Sultan Mahmud Badaruddin II di Sumsel, Sultan Hasanuddin di Sulsel, Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Kaltim serta El Tari di NTT.
Terkait frasa ‘dipaksa’ yang Saya sampaikan di atas sebelumnya, di sini tantangannya. Bagaiman ‘memaksa’ turis itu tidak keberatan, tentu harus diramu dengan paket wisata yang fleksibel.
Tentunya dibutuhkan intervensi pemerintah. Entah itu subsidi dari segi biaya tiket pesawat, hotel sampai kemudahan visa. Jika berhasil, subsidi bisa dicabut. Pun dengan Pemda setempat. Harus punya komitmen sama.
Ahh…Saya pun ragu dengan ide ini. Karena tidak ada aturan ini secara global dilakukan. Tapi kenapa tidak dicoba. Toh aturan itu bisa dibatalkan. Saya mulai membayangkan bagaimana kalau Jambi dibanjiri turis asing. Ekonomi berputar. Cuan mengalir.
Pasalnya, berdasarkan data BPS Provinsi Jambi, tahun 2025 dari setiap 1.000 tamu hotel di Jambi hanya sekitar 7 orang yang berasal dari luar negeri. Sangat minim dan miris. Angka itu sedikit terobati dengan jumlah wisatawan nusantara ke Jambi sekitar 5,38 juta perjalanan.
Nah, untuk Jambi, di sini tantangannya. Bagaimana turis asing yang ‘dipaksa’ transit tadi disuguhkan destinasi wisata yang menarik. Jika transit sehari, paling yang terdekat dari kota Jambi adalah komplek percandian Muarojambi. Meski, masih ada destinasi di Kerinci dan lainnya.
Sebenarnya Jambi bisa menghidupkan destinasi wisata baru. Saya mengusulkan kawasan Seberang Kota Jambi dijadikan wisata religius. Terlebih, Seberang Kota Jambi banyak keturunan Arab. Ini segaris dengan usul Saya jika turis asal Arab dan Malaysia ‘dipaksa’ transit. Tak mudah memang mewujudkannya.
Penulis : Rolan – Pimred sinarjambi.com







Discussion about this post