Setelah dirasa cukup istirahat seharian, hari ke dua di Banda Aceh Saya mulai bersiap menyalurkan bantuan pembaca setia JI. Sesuai janji, kepala kantor Pos Banda Aceh saat itu menemani menuju tempat penampungan pengungsi korban gempa dan Tsunami. Truk Pos Indonesia yang penuh muatan bantuan meluncur menyusuri Kota Banda Aceh. Sepanjang jalan, tentu Saya masih ingat jalanan kota.
Meski telah sebulan lebih pasca kejadian, aneka sampah terlihat menumpuk di pinggir jalanan. Tinggi sekali sampah itu. Patahan pohon mendominasi. Disini Saya baru mencium aroma tak sedap yang bercampur aduk. Begitu aneh aromanya. Celakanya, Saya lupa melengkapi diri dengan masker. Tak hilang akal, kaos dalam Saya jadikan masker dadakan menutupi hidung dan mulut. Dari cerita pegawai Pos Indonesia malam itu, sekitar seminggu setelah Tsunami masih ditemukan jenazah di tumpukkan sampah di jalanan.
Sekitar 30 menit Kami berjalan, tiba di salah satu penampungan pengungsi. Lagi-lagi, Saya lupa nama kawasannya. Yang teringat, begitu menumpuknya tenda-tenda pengungsian. Hiruk pikuk sekali. Rupanya, riuhnya pengungsi karena melihat kedatangan truk Kami. Wajar saja mereka sangat berharap bantuan. Kami tak sendiri, ada beberapa mobil bantuan lain yang telah tiba duluan. Untung ada petugas dari TNI-Polri yang mengamankan. Jika tidak, dikhawatirkan akan saling berebutan.
Setelah Kami melapor ke posko bantuan, barang-barang dalam truk mulai diturunkan. Sebagai penghargaan kepada Kepala Pos Indonesia Banda Aceh, Saya meminta Ia menyerahkan secara simbolis kepada perwakilan pengungsi. Lengkap dengan spanduk “Bantuan Jambi Independent”. Momen inipun Saya abadikan.
Melihat anak-anak di pengungsian, Saya termenung sejenak. Pandangan Saya kosong. Pasalnya, diantara anak-anak itu banyak yang menjadi yatim piatu karena orangtua menjadi korban gempa dan Tsunami. Rasa iba hanya dalam hati saat melihat pemandangan di pengungsian. Seketika Saya teringat adik perempuan kecil Saya yang paling bontot.
Saya ingat seorang anak kecil perempuan menatap ke arah Saya. Kira-kira umurnya 4 tahun. Tatapannya kosong. Saya sempat dua kali menoleh ke belakang. Mengira bocah itu memandang orang di belakang Saya. Ternyata, Ia memang menatap Saya. Saya hampiri. Saat itu Saya tak menanya nama. Usapan tangan Saya di kepalanya lah yang membuat Ia tersadar.
Ternyata memang Ia melamun saat menatap Saya. Sejurus kemudian bocah malang itu berlari menjauh. Ya, bocah malang. Ini setelah petugas di pengungsian memberi tahu Saya jika bocah itu yatim piatu. Dari kejauhan Ia masih menatap Saya. Sepertinya, kamera yang Saya tenteng menjadi perhatiannya.
Lucunya, naluri fotografer Saya mendadak hilang sejenak. Saya lupa memotret anak itu. Tak ayal, banyak momen foto jurnalistik yang Saya lewatkan. Jurnalis foto juga manusia. Terkadang, sifat keibaan muncul menutup insting profesi. Ah sudah lah, Saya tak mau lama-lama bercerita kondisi anak-anak di pengungsian. Iba hati.
Tak terasa, seluruh bantuan sudah diturunkan. Kami segera balik kanan. Dari sini, Saya langsung berpisah dengan sopir truk Pos Indonesia dari Jambi yang Saya tumpangi. Beberapa jam setelah itu, pikiran Saya ada yang mengganjal. Ya, sang sopir truk tak ngotot lagi ditemani pulang ke Medan. Marah campur lucu mengaduk hati. Mengingat sopir itu saat ngotot dikawani dari Medan.
Saya sengaja tak menghubunginya. Jadi runyam kalau Ia berubah pikiran. Masih ada tugas lain yang harus Saya selesaikan. Tak lain mengirim segera dokumentasi atau foto penyerahan bantuan ke kantor di Jambi. Belum lagi, Saya menunggu telepon dari redaksi terkait hasil penyaluran bantuan.
Karena hari masih pagi, Saya masih ada waktu jelang mengirim laporan ke kantor. Saya diajak kepala kantor Pos ‘berwisata’ sejenak. Pantai Lhoknga tujuan Kami. Pantai ini menyimpan begitu banyak kenangan indah semasa sekolah dulu. Begitu sering Saya ke sini. Entah itu dengan keluarga atau teman semasa sekolah. Disini juga lah pabrik semen Iskandar Muda berdiri. Bangunannya banyak yang hancur diterjang Tsunami.
Disini Saya melihat kuasa Illahi sang pencipta menunjukkan kebesarannya. Mesjid berdiri kokoh. Ini satu-satunya bangunan di pantai Lhoknga yang selamat dari terjangan air Tsunami. Padahal, mesjid berdiri hanya 500 meter dari bibir pantai. Kami pun sempat memasuki mesjid itu. Belakangan, dari internet diketahui nama mesjid itu Rahmatullah. Dinding mesjid dan tiang penyangga memang terlihat retak. Namun tetap berdiri kokoh. Saya tak mengenali lagi kawasan ini pasca luluh lantak. Dulu, Saya sering melintas di kawasan ini saat hendak menikmati indahnya pantai nan eksotik ini.
Di kejauhan terlihat warga berjalan kaki melintasi jembatan darurat yang dibangun TNI. Seingat Saya, di belakang pabrik semen itu memang adalah permukiman penduduk. Saya menyempatkan bertanya ke salah seorang warga. Menenteng barang bawaannya, warga itu bilang ingin pulang ke desanya. Menjelang Zuhur, Kami meninggalkan Lhoknga. Jujur, Saya tidak ingat secara detil semua selama di Banda Aceh. Maklum, penugasan itu 19 tahun lalu.
Tiba waktunya mengirim foto ke redaksi. Saya dapat kabar dari rekan jurnalis di lapangan, bahwa disediakan media center di rumah dinas Gubernur Aceh. Tiba di rumah dinas Gubernur Aceh, Saya diarahkan ke pendopo. Di sini, telah banyak jurnalis berkumpul dengan kesibukannya masing-masing. Saya pun harus mengantri menggunakan komputer yang terbatas.
Tiba giliran Saya dapat kesempatan memakai komputer. Saat hendak mengirim foto, Saya lupa bawa card reader. Itu perangkat berfungsi memindahkan foto di memory card kamera ke komputer. Syukur, ada jurnalis baik hati meminjamkan card reader. Belakangan, diketahui Ia adalah jurnalis koran Jawa Pos. Induk koran JI.
Foto berhasil dikirim. Tinggal menunggu telepon dari redaksi melaporkan hasil penyaluran bantuan. Kenapa menunggu, karena saat itu Saya belum terlatih menulis berita. Setelah semua tuntas, lega rasanya. Misi utama membawa bantuan selesai. Sisanya, hanya cerita nostalgia di kota Banda Aceh.
Sore hari Saya meluncur ke daerah bernama Lueng Bata di jalan lintas Sumatera antara Medan – Aceh. Disinilah rumah dinas orangtua Saya saat bertugas. Lima tahun Kami menetap di rumah itu. Jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Saat Tsunami, arah Lueng Bata ini menjadi tempat warga menyelamatkan diri. Ini karena kawasannya cukup tinggi. Cukup lama Saya memandangi rumah dinas orangtua. Kenangan indah Kami sekeluarga terlintas di benak. Bergelut dengan kakak dan adik di halaman rumah yang cukup luas. Pohon buah jambu monyet masih tegak berdiri di pinggir pagar.
Saya pun menyambangi tetangga sebelah rumah. Untungnya, Saya ketemu penghuni rumah. Kak Cut namanya. Kak singkatan kakak untuk panggilan orang lebih tua. Cut nama depan perempuan Aceh. Ia terkejut melihat kedatangan Saya. Setelah perkenalkan diri, baru Ia teringat dengan Saya. Ia terharu. Pasalnya, selain kisah Tsunami Aceh yang juga menimpanya, Kami bertetangga sangat dekat sekeluarga.
Dari ceritanya, Ia selamat dari Tsunami. Itu terjadi di rumah kerabatnya yang dekat bibir pantai. Ia berhasil selamat dari kepungan air yang memenuhi rumah. Ia selamat karena dek dan atap rumah jebol di dorong air Tsunami. Tetangga berikutnya yang Saya temui yakni Kak Sur. Ia dulu perawat. Sangat dekat dengan ibu Saya.
Saya bertemu lagi dengan Kak Sur saat liburan Idul Adha tahun 2021 di Banda Aceh. Di tahun 2021, Saya datang bersama istri dan anak. Plus ibu, adik perempuan paling bontot bersama suami dan mertuanya. Kami kembali menyambangi rumah dinas orangtua. Setelah menunggu sebentar, Kak Sur tiba. Seketika Ibu dan Kak Sur berpelukkan haru. Ternyata, itu juga pertemuan pertama kali mereka sejak Kami meninggalkan Banda Aceh tahun 1995. Saya pun perkenalkan istri dan anak ke Kak Sur. Ia berkelakar terakhir ketemu saat menyalurkan bantuan, Saya masih bujangan.
Kembali ke cerita penugasan liputan Tsunami. Setelah bertemu keluarga Kak Sur, malam harinya Saya kembali ke pusat kota. Penasaran ingin melihat suasana kota di malam hari, Saya pun berkeliling. Ini setelah malam hari pertama tiba fokus istirahat. Hening. Itu yang terasa saat menyusuri sudut kota. Belum banyak aktifitas warga. Lampu penerangan jalan masih minim. Agak merinding. Tak lama, motor yang Saya tumpangi melintas depan mesjid kebanggaan warga Aceh. Mesjid Baiturrahman namanya. Di mesjid ini juga menjadi titik menyelamatkan diri dari terjangan air Tsunami.
Penulis : Rolanda Hasibuan, Pemimpin Redaksi sinarjambi.com







Discussion about this post