HUBUNGI KAMI
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM
Cahaya Baru Masyarakat Jambi
No Result
View All Result
PARTNER
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM
Cahaya Baru Masyarakat Jambi
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM

Aktivis Sarat Kepentingan: Tajam ke Lawan, Tumpul ke Kawan — Siapa yang Sebenarnya Sedang Dikawal ?

Opini

Kamis, 26 Maret 2026
in OPINI
A A
Foto : ist

Foto : ist

ShareTweetSendCode

Aktivisme hari ini sedang sakit. Bukan sekadar melemah—tetapi terinfeksi kepentingan. Di ruang publik, kita menyaksikan satu pola yang semakin vulgar: Teriakan lantang hanya muncul ketika menyerang pihak tertentu, tetapi mendadak hilang ketika isu menyentuh pihak lain yang “dekat”, “aman”, atau “menguntungkan”.

Ini bukan lagi soal keberanian. Ini soal keberpihakan yang disamarkan.
Di Provinsi Jambi, publik bukan tidak tahu. Nama-nama seperti Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., Drs. H. Cek Endra, dan Dr. H. Maulana, M.K.M. terus beredar dalam diskursus— baik dalam konteks kebijakan, kekuasaan, maupun berbagai isu yang menyertainya.

Namun yang menjadi pertanyaan keras:
Mengapa hanya sebagian yang dijadikan sasaran tembak, sementara yang lain diperlakukan seolah steril dari kritik?
Apakah ini kebetulan? Atau memang ada “garis batas” yang tidak boleh disentuh?
Jika kritik hanya berani diarahkan ke pihak yang tidak memiliki relasi kepentingan, maka itu bukan keberanian—itu kalkulasi. Dan jika diam terjadi karena kedekatan atau keuntungan, maka itu bukan netralitas—itu kompromi.
Lebih tegas lagi: itu adalah bentuk kemunafikan intelektual.

Dalam perspektif hukum, perilaku ini mencederai prinsip equality before the law. Tidak ada alasan rasional maupun yuridis untuk membenarkan standar ganda dalam kontrol sosial. Ketika satu pihak dihakimi di ruang publik, sementara pihak lain “diamankan” dari kritik, maka yang sedang dipraktikkan bukan keadilan—melainkan diskriminasi yang dibungkus moralitas.

SekilasBerita

Jambi Mantap Terkelola: Ketika Stabilitas Pangan dan Kelancaran Mudik Bukan Sekadar Kebetulan

Framing Media dan Ujian Kepemimpinan Daerah di Tengah Krisis Fiskal

Strategi Percepatan Capaian IPM Bidang Pendidikan di Provinsi Jambi

Kajian Kepustakaan dan Analisis Publik Terkait Dinamika Kepribadian Kepemimpinan dan Serangan Siber Terhadap Gubernur Jambi Al Haris

Dalam perspektif politik, ini adalah wajah telanjang dari pseudo-activism—aktivisme palsu yang hanya berani ketika aman, dan hanya menyerang ketika ada kepentingan. Aktivisme jenis ini bukan lagi alat kontrol kekuasaan, melainkan sudah menjadi bagian dari permainan kekuasaan itu sendiri.

Lebih berbahaya lagi, publik sedang ditipu. Ditipu dengan narasi keberanian. Ditipu dengan citra kritis. Padahal yang bekerja di balik itu adalah kepentingan yang rapi dan terorganisir. Kritik selektif adalah propaganda. Ia bukan mencari kebenaran, tetapi mengarahkan persepsi.

Hukum memang mengajarkan asas praduga tak bersalah. Namun jangan disalahgunakan: asas ini bukan tameng untuk diam terhadap pihak tertentu, dan bukan pula senjata untuk menyerang pihak lain secara sepihak. Jika satu nama layak dikritik karena isu publik, maka semua nama dalam kondisi yang sama wajib diperlakukan dengan standar yang sama. Tanpa pengecualian. Tanpa kompromi.

Sudah cukup publik dibodohi oleh aktivisme yang berpura-pura netral.
Aktivis yang hanya berani menggonggong ke satu arah, tetapi membisu ke arah lain, bukan penjaga demokrasi—mereka adalah penjaga kepentingan.

Jangan lagi bicara moral jika kritik masih bisa dinegosiasikan. Jangan lagi bicara keadilan jika keberanian masih bisa dipilih-pilih.

Karena pada akhirnya, aktivisme yang tunduk pada kepentingan bukanlah suara rakyat Melainkan alat kekuasaan yang menyamar dalam bahasa perlawanan.

Penulis : Elas Anra Dermawan, SH – 
Advokat & Founder LBH NADI

Previous Post

AFTECH: Formasi Baru OJK Momentum Penguatan Governance dan Ekosistem Fintech

Next Post

OJK Bersama Bareskrim Amankan Tersangka Kasus Dugaan Tindak Pidana Perbankan

Next Post
OJK bersama bareskrim amankan tersangka kasus dugaan tindak pidana perbankan. (Foto : ist)

OJK Bersama Bareskrim Amankan Tersangka Kasus Dugaan Tindak Pidana Perbankan

Tinjau Fasilitas Kesehatan Puskesmas Tahtul Yaman, Wali Kota Maulana Kenang Awal Pengabdian Sebagai Seorang Dokter PTT. (Foto : ist)

Tinjau Puskesmas Tahtul Yaman, Wali Kota Maulana Kenang Awal Pengabdian Sebagai Dokter PTT

Discussion about this post

Pencarian

No Result
View All Result

Indeks

Maret 2026
MSSRKJS
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031 
« Feb    
Cahaya Baru Masyarakat Jambi

© 2023 Sinar Jambi - Jalan Lingkar Selatan II, RT 28, Blok B-8, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi. Developed by Ara.

  • BERANDA
  • KODE ETIK
  • PEDOMAN
  • REDAKSI
  • PERLINDUNGAN
  • DISCLAIMER

Media Sosial

No Result
View All Result
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM