Lebih dari seribu orang meninggal serta ratusan orang masih hilang akibat banjir dan longsor yang terjadi di kawasan Sumatera tepatnya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Dan diperkirakan estimasi angka kerugian hingga mencapai puluhan triliun.
Apa yang terjadi di Sumatera adalah permasalahan kompleks yang bisa saja dicari benang merahnya. Tetapi tidak ada salahnya jika kita juga merefleksikan diri dengan cara melihat alam tanpa sekat-sekat yang dibuat oleh paradigma manusia modern.
Seperti istilah yang dikatakan Emily Dickinson _“Mata yang tak bersekat.”_ Itulah yang barangkali satu-satunya cara dalam memaknai sesuatu yang dapat mambantu kita untuk hidup lebih selaras dengan alam —bergetar merasakan ketakjuban yang luar biasa dari kehidupan, dan memandang betapa penting kita membutuhkan alam.
Ada banyak cara manusia modern menembus _“Mata yang tak bersekat.”_ Seperti dengan memelihara mitos dari ego manusia modern.
Memelihara Alam Dengan Mitos dari Ego Manusia Modern
Menyadari dan memelihra mitos adalah bagian kekayaan khazanah ilmu pengetahuan ditengah arus modrenitas abad-21 adalah sekat yang harus ditempuh. Semacam suatu jalan alternatif tengah. Meskipun mitos tidak menawarkan rasional dalam suguhan pengetahuan manusia modern.
Bentuk-bentuk tradisi ritual dan upacara masyarakat adat adalah cara memungkinkan memahami keterikatan alam terhadap manusia jauh lebih dalam.
Dalam paradigma sains kadangkala manusia modern bersikap congkak dan egois terhadap alam. Membabi buta membunuh argumen mitos yang terkesan kuno dan dangkal karena hanya berbicara masa yang telah lampau. Dengan data dan penelitian serta perizinan hukum sebagai alat formalitas yang kita anggap terpenuhi. Maka kita menganggap kita punya hak untuk mengambil apa yang ada di alam dengan standardisasi pengetahuan manusia modern.
Letak-letak ego manusia terlihat jelas ketika memperlakukan alam. Inilah yang dapat kita katakan sebagai _“Mata yang tersekat”_ Melihat alam dengan cara kita sendiri mengesampingkan hal-hal yang kita tidak anggap penting dengan dada membusung terhadap ilmu pengetahuan yang empiris.
Dalam buku _Sacred Nature_ yang ditulis oleh Karen Armstrong bagaimana memulihkan keakraban dengan alam. Kita yang seringkali fasih dengan logos sebagai fondasi konsep sains merupakan basis paradigma masyarakat modern. Menggunakan kekuatan logika ketika hendak melakukan sesuatu, untuk mencapai sesuatu, atau untuk membujuk orang lain menyetujui opini tertentu. Inilah yang memungkinkan manusia modern bebas melakukan apapun terhadap alam.
Padahal bilamana kita merenung sedikit lanjut Karen Amstrong mengatakan bahwa _Logos_ sepertinya halnya mitos, memiliki keterbatasan. Artinya keduanya memiliki potensi untuk kekeliruan dan sudah tentu sama-sama memiliki kemanfaatan yang sama.
Bila mitos menjadikan kita menghargai alam, maka tidak ada salahnya kita memeliharanya. Kita kembali pada penghargaan akan mitos sebagai _local wisdom_ untuk memelihara alam semesta.
Mencari Sekat Manusia Modern terhadap Alam
Ralp Waldo Emerson seorang Esais juga penyair Amerika Serikat. Dalam esainya yang terkenal berjudul _“Nature”_ menggambarkan pergeseran daya manusia melihat alam di kedalaman spiritual yang mati, ia mengatakan.
“Beberapa orang dewasa sanggup melihat jagat raya. Kebanyakan orang tidak mampu melihat matahari, setidak-tidaknya mereka memiliki penglihatan begitu dangkal. Sinar matahari hanya dapat ditangkap oleh mata orang dewasa, tetapi kilaunya hanya merasuk de dalam mata dan hati seorang anak kecil.
Artinya penglihatan orang dewasa terhadap alam hanya sebatas komersil. Kita mungkin sudah kehilangan kekaguman hal yang kita anggap biasa saban hari kita menganggap alam adalah rutinitas yang wajar. Hanya untuk dilihat ketika bencana melanda. Melupakan matahari di pagi dan sore hari, melihat bahtera nun luas menghidupi masyarakat pesisir, melihat pelangi dan hujan, melihat hamparan hutan hijau dan panjangnya sungai mengalir jauh ke hulu, sampai kawanan burung berkicau berdesak-desakan akan kembali ke sarang untuk tidur.
Singkatnya kita tak pernah menganggap itu semua sesuatu yang harus kita perhatikan lebih.
Meletakan alam pada posisi bukan hanya meminta tetapi juga memberi. Bertanya pada diri sendiri: Untuk apa kehadirannya ditengah-tengah alam?. Apakah hanya sebatas bersinggungan kemudian meminta bahkan pada tatanan sumber daya alam mengeksploitasinya habis-habisan.
Padahal sejak dahulu letak alam senantiasa di sakralkan. Dalam literatur sastra kita dapat menemukan sastrawan melihat alam pada suatu yang lebih. Dalam syair ditulis oleh Khalil Giran misalnya, hubungan alam dan manusia tidak hanya sebatas kehidupan yang saling bersinggungan fisik saja. Lebih dari itu, alam –sebagai ibu, guru dan nyawa. Alam adalah Kitab spiritual manusia. Tetapi, kadangkala alam juga berada posisi tidak menguntungkan.
Misalnya dalam penggambaran syair yang ditulis Khalil Gibran alam pada posisi dirugikan masih relevan hingga saat ini. Syair itu berjudul.
Alam dan Manusia
Aku mendengar anak sungai meratap seperti seeorang janda menangisi anaknya yang mati. Lalu aku bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai anak sungaiku yang jernih?”
Anak sungai itu menjawab, “karena aku dipaksa untuk pergi ke kota di mana manusia menyia-nyiakan dan mencampakkanku demi minuman-minuman keras, dan menjadikanku tempat penampungan sampahnya, mengotori kemurnianku, dan mengubah aku yang baik menjadi kotor dan tercemar.
Di antara jalan adihulung yang bisa ditempuh manusia modern adalah sedikit mau menurunkan ego dengan apa yang diyakininya terhadap pengetahuan dan berdialog dengan jujur tentang apa yang di ajarkan agama dan nilai-nilai _local wisdom_ untuk menghargai alam.
Kita memang tidak dapat menghindari perubahan zaman yang mengancam keberlangsungan alam. Namun sudah saatnya kita melihat alam tanpa sekat dikotomi ilmu pengetahuan dan menjaganya dalam tindakan nyata sekalipun kecil dari diri kita sendiri.
Penulis : Fahrum Yahya (Mahasiswa Fakultas Hukum Tatanegara UIN Gusdur dan Kader HMI)








Discussion about this post