SINARJAMBI.COM – Dari data BPS Kota Jambi, inflasi kota Jambi bulan Januari 2024 cukup terkendali di angka 2,65 persen. Meski demikian, pemerintah kota (Pemkot) Jambi tak mau terlena. Lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kota Jambi terus melakukan mitigasi mencegah lonjakan inflasi. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu lewat ‘Gerakan Ayo Menanam’.
Aksi nyata itu dipimpin Pj Wali Kota Jambi Sri Purwaningsih bertempat di kelompok tani Sumber Tani Makmur Rahayu 2, kelurahan Kenali Asam, Kota Baru, Kamis (29/2/2024) pagi. Kali ini, Gerakan Ayo Menanam difokuskan pada komoditas cabai.
Turut hadir Kapolresta Jambi Kombes Pol Eko Wahyudi, Dandim 0415/Jambi Letkol Arm Eko Pristiono, Sekda Kota Jambi A Ridwan, kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan kota Jambi Boy Evridal. Hadir juga Roby selaku Deputi kantor perwakilan BI Jambi, Wadan Denpom II/2 Jambi Mayor Syahrial, perwakilan dari Bulog Jambi, Anthony selaku ketua forum CSR kota Jambi, Dirut PDAM Tirta Mayang dan undangan lainnya.
Dikatakan Sri, sektor ketahanan pangan menjadi perhatian serius presiden RI Joko Widodo. Gerakan Ayo Menanam ini, kata Sri, telah dilakukan Pemkot Jambi di masa kepemimpinan Wali Kota Jambi terdahulu yakni Sy Fasha.
“Terkait dengan hal tersebut, untuk memastikan stok pangan di seluruh Indonesia ini terjaga dengan baik, ada barangnya, harganya terkendali maka benar-benar penjagaan terhadap inflasi seluruh Indonesia ini terus diperhatikan. Untuk mengawal itu, pemerintah pusat tidak bisa sendirian. Maka bersama-sama dengan provinsi, kabupaten, kota sama Lurah, Desa, RT, RW, Posyandu itu semuanya harus gerak.”
“Dan pemerintah tidak juga bisa sendirian, harus ada TNI, Polri, seluruh institusi ya. Ini dari Kejari, Pengadilan Negeri semua konsen untuk bagaimana memastikan inflasi di Republik Indonesia ini terjaga dengan baik, pangan tidak menjadi masalah dan harga terjangkau ini yang menjadi fokus dari setiap kegiatan yang ada di Republik Indonesia ini,” jelas Sri dalam sambutannya.
Saat pandemi covid-19 melanda dunia, kata Sri, Indonesia mampu bertahan secara ekonomi. Sementara, banyak negara yang kolaps dan harus meminjam uang ke lembaga IMF alias berutang. Disaat pandemi covid-19 berlalu, kondisi global dunia kembali diganggu dengan berkecamuknya perang Ukraina dan Gaza di Palestina.
Meski lokasi perang sangat jauh dari Indonesia, namun itu tentu menggangu stabilitas ekonomi dunia. Salah satu yang sangat berpengaruh untuk Indonesia adalah naiknya nilai Dolar Amerika terhadap Rupiah.
“Oleh karena itu, memastikan Indonesia ini selalu stabil maka inflasi harus terus dijaga, ketahanan pangan harus benar-benar dikawal. Oleh karena itu, seluruh pemerintah daerah ditegaskan untuk menjaga inflasi ini, memastikan ketahanan pangan ini benar-benar terjaga di masing-masing daerah,” ujarnya.
Ia sedikit bercerita saat beberapa minggu pertama ditunjuk menjabat Pj Wali Kota Jambi, angka inflasi sangat tinggi di akhir tahun 2023.
“Tapi Alhamdulillah dengan berjalannya waktu dari November, Desember, Januari, sekarang kita masuk Februari angka (peringkat terbaik) kita terus merangkak naik dan kita masuk ke urutan 66 tidak lagi masuk ke 10 besar (inflasi tertinggi). Apa yang kita lakukan, pemerintah kota Jambi, saya bersama forkopimda, bersama para kepala OPD yang terkait untuk penanganan inflasi ini terus melakukan hal-hal yang diperintahkan.”
“Mulai dari pasar murah ya, gerakan pasar murah terus kita lakukan. Gerakan untuk termasuk Ayo Menanam ini kita lakukan setiap hari. Kepala Dinas Perdagangan itu ngecekin pasar-pasar, bagaimana fluktuasi harga itu laporan setiap pagi disampaikan gitu ya. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk berupaya untuk sekarang-sekarang ini harga cabai mulai merangkak, merangkak, merangkak (naik). Supaya tidak terulang lagi seperti waktu El Nino kemarin harga cabe sampai tembus ke angka 100-an (ribu),” urai Sri panjang lebar.
Upaya lain yang telah dilakukan untuk menjaga harga cabai stabil yakni dilakukanya kerjasama pemkot Jambi dengan daerah penghasil yakni Sleman dan Purworejo di pulau Jawa. Nantinya, Pemkot Jambi akan membeli cabai dengan harga produsen.
Kerjasama itu didukung kantor perwakilan Bank Indonesia BI Provinsi Jambi yang akan membantu biaya transportasi dari pulau Jawa. Dengan demikian, kata Sri, harga yang dibeli dari produsen tidak akan berubah saat tiba di kota Jambi.
“Maka kami juga sedang berupaya bersama-sama dengan Bank Indonesia (Jambi), Kami akan belanjakan tapi di daerah produsen ya, karena kita meskipun lahan ada 1400 (hektar) tapi ternyata tidak semuanya optimal untuk bercocok tanam dan tidak semuanya menghasilkan cabe. Nah, oleh karena itu kami bekerja sama. Saya menandatangani perjanjian kerjasama dengan Sleman, Purworejo. Dan nanti tanggal 7 (Maret) Kita akan membelanjakan, yang pertama belanja cabe dengan harga produsen tentu saja.”
“Mudah-mudahan harga petani lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran yang lainnya. Nanti angkutnya, ongkos angkutnya, bongkar muatnya pak Robi (BI Jambi) yang akan membiayai. Sehingga nanti sampai ke kota Jambi ini, harganya tetap di harga petani. Sama seperti masyarakat nanti beli di Sleman dan Purworejo. Itu salah satu upaya yang kami lakukan supaya harga di kota Jambi ini terus terkendali.”
“Dan itu tidak bisa hanya sekali tanggal 7, maka terus kami akan atur. Selain itu kami juga sudah mengumpulkan agen-agen, agen-agen cabe, agen bawang merah. Itu manakala ada fluktuasi harga yang kira-kira mengagetkan gitu, pemerintah daerah akan mengeluarkan BTT (Belanja Tidak Terduga)-nya. Kelebihan harga, kemahalan harga akan kami subsidi. Jadi kalau misalnya harga cabe normalnya 30 (ribu) tiba-tiba nanti melejit menjadi 40, segera kami akan koordinasi dengan agen untuk supaya jangan menaikkan, tetap di angka 30. (Selisih) 10 itu yang akan diberikan dari APBD-nya,” jelas Sri atas upaya apa saja yang telah dilakukan mengendalikan inflasi.
Pemkot Jambi juga mendorong warga agar menanam cabai di lahan rumahnya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan. Itu setidaknya membantu mengurangi ketergantungan cabai dari pasar. Untuk itu, Sri Purwaningsih sekali lagi mengajak warga dan semua pihak untuk bersemangat menggalakkan gerakan menanam ini. Tentunya, harus dengan kolaborasi dan sinergi semua pihak.
“Nah kalau itu bisa, Insyaallah kita tidak terlalu terganggu dengan pasar, ketersediaan bahan di pasar. Masyarakat kita, warga kita dengan keterbatasan lahannya punya polybag-polybag untuk menghasilkan cabe sendiri, bawang merah sendiri dan sayur mayur yang dibutuhkan. Itu harapan yang saya inginkan dari masyarakat dan itu kita lakukan.”
“Mari sama-sama kita bersemangat semuanya untuk menjaga ketahanan pangan di kota Jambi ini, melalui gerakan-gerakan yang pemerintah kota lakukan dan gerakan ayo menanam ini sebagai langkah awal kita untuk di Kota Baru ini. Nanti terus kita kawal bersama untuk menghasilkan. Ini yang kita sama-sama niatkan supaya dari Kecamatan Kota Baru, dari Kelurahan Kenali Asam punya produsen.”
“Kalau ini juga kita viralkan Insya Allah ya kenali Asam, Kota Baru ini bisa booming nanti penghasil cabe di kota Jambi. Jadi sama-sama kita pastikan bahwa langkah kita ini nanti berhasil, maka koordinasi komunikasi antara gapoktan, dengan pemerintah kota, dengan Camat, dengan Lurah terus harus kita lakukan bersama,” pungkas Sri Purwaningsih. (Lan)
Discussion about this post