HUBUNGI KAMI
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM
Cahaya Baru Masyarakat Jambi
No Result
View All Result
PARTNER
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM
Cahaya Baru Masyarakat Jambi
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM

Istiqomahnya Guru

Sabtu, 2 April 2022
in OPINI
A A
ShareTweetSendCode

Banyak pihak mengatakan, guru yang mempunyai sifat istiqomah, diibarat sebagai batu karang yang berada di tengah-tengah lautan, tidak bergeser sedikit pun walau dihantam gelombang yang besar. Guru dihadapkan dengan berbagai persoalan ‘eksternal’ yang turut mempengaruhi dinamika pembelajaran di ruang kelas: pandemi covid-19, aturan tentang PTM terbatas, pergantian kurikulum, berubah dan bergantinya aturan tentang pendidikan, fasilitas pendidikan yang belum merata, masalah kompetensi guru dan lain-lain.

Kita memerlukan ‘guru yang istiqomh’. Guru ini ‘tegak lurus’ (Merdeka.com) membelajarkan siswanya tidak peduli apapun yang terjadi diluar pembelajaran. Guru yang istiqomah dengan lisan, sikap bertahan dengan ‘mengeluarkan’ bahasa dan tuturan ‘yang enak didengar’ oleh siswa. Dia juga istiqomah dengan hati (Ibnu Abbas), apapun yang terjadi dia tetap berniat jujur dalam pembelajaran. Dan yang paling penting, dia istiqomah dengan jiwa, dia mendidik dengan niat beribadah bukti ketaatan kepada Allah.

Dengan menerapkan istiqomah, guru akan merasa lebih ringan dalam menjalan tugas dan fungsinya: 1) melaksanakan tugas dengan meluruskan niat hanya untuk Allah SWT; 2) menjalan tugas bukan karena ‘tupoksinya’ tapi karena rindu dengan siswanya; 3) niatnya hanya untuk membelajarkan siswa walaupun caranya berbeda dengan cara cara yang biasa; 4) selalu ‘memburu’ informasi untuk ‘menyamankan diri’ dalam menjalankan tugasnya;

Kemudian, 5) selalu meningkatkan kompetensi diri, rendah diri untuk selalu menerima kritik, tidak pernah cepat puas dengan hasil yang dicapai dan selalu belajar hal baru; 6) ‘sekuat tenaga’ memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi, dalam konteks tertentu, siswa ‘dipaksa’ untuk melanjutkan pendidikan; 7) mencari cara ‘mempermudah’ pembelajaran bukan sebaliknya; 8) selalu mendoakan siswa untuk lapang dan terang hatinya dalam belajar.

SekilasBerita

Anggaran, Efisiensi dan Ilusi Keberhasilan Pembangunan

Jaringan Bukan Mesin, Kemungkinan Bukan Bukti

Salah Kaprah Membaca Moratorium PKS sebagai Anti-Hilirisasi

Hotspot Terdeteksi, Firespot Tidak Ditemukan: Memahami Perbedaan Keduanya dalam Penanganan Karhutla

Bagi guru, selain istiqomah, keteladanan dan moralitas guru juga menjadi prioritas. Tidak ada artinya ‘guru hebat’, bila tidak bisa memperlihatkan dan mencontohkan etika dan moral yang baik. Guru yang istiqomah bukan hanya ‘piawai’ dalam mengelola pembelajaran tapi juga menjadi contoh dan teladan bagi siswanya. Dia tidak membuat contoh, atau memberi contoh tapi mencontohkan sendiri hal hal yang positif.

Dengan menjaga istiqomah, guru tidak mudah ‘tergoda’: mencari ‘jalan pintas’ dalam merencanakan pembelajaran, ‘menyepelekan’ pembelajaran berkualitas, ‘mempermudah’ membuat penilaian, atau ‘membiarkan’ siswa tidak melanjutkan pendidikannya. Kesemuanya ini akan’menggerogoti’ sendi sendi pembelajaran di ruang kelas, dan kalau ini dibiarkan maka siswa akan keluar kelas seperti orang yang tidak belajar.

Harus disadari bahwa istiqomah bukan berarti keras kepala, tinggi hati, mau menang sendiri atau tidak mau mendengar masukan orang lain. Tapi, figur yang memiliki keyakinan kokoh dan memiliki arah hidup yang lurus, selalu ingin belajar, terbuka berdiskusi dengan siapa saja, ingin belajar dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Tidak malu harus belajar dengan siswanya, dengan orang yang lebih muda dan lain-lain.

Diyakini bahwa istiqomah bukan hal yang mudah dilakukan walaupun mudah diucapkan. Sifat ini bukan datang begitu saja, tapi dilandasi oleh banyak hal (diadopsi dari Abu Muslih): pertama, sabar adalah sifat dasar guru dalam pembelajaran. Tanpa ada kesabaran, bisa dipastikan guru tidak akan pernah ‘betah’ berada di kelas.

Kata ‘sabar’ inilah yang akan membuat guru memotivasi dirinya untuk selalu belajar, berinovasi dalam pemilihan strategi dan metode pembelaran. Kata ‘sabar’ ini pula akan menghindarkan guru untuk tidak ‘bermain main’ terhadap kompetensi siswa. Kedua, keteguhan hati, ini adalah ‘perasaan gembira’ terhadap permasalahan pembelajaran. Tidak goyah terhadap apapun yang bisa mengganggu guru dalam pembelajaran. Apapun problem yang muncul, tugas guru tetap membuat siswa belajar, dia akan mencari ‘akal’ agar siswa tetap menikmati proses pembelajaran.

Dia memiliki banyak alternatif dan pilihan agar siswa nyaman belajar dalam kelas. Tidak pernah menyerah dengan keadaan tapi akan ‘merekayasa’ keadaan agar berpihak pada siswa. Tidak boleh ada siswa yang mengeluh, apalagi ‘menderita’ saat pembelajaran. Semua siswa harus ‘direkayasa’ agar bahagia selama pembelajaran.

Keteguhan hati seorang guru disibukkan dengan kecintaan dan kerinduan untuk meningkatkan kompetensi siswa, guru tidak akan pernah merasakan sakit atau kecewa atas permasalan yang muncul dalam pembelajaran, justru, permasalahan itulah penyemangat dirinya untuk ‘beribadah’, untuk berpikir dan belajar menyelesaikan masalah. Semakin banyak masalah yang muncul, semakin ‘bahagia’ dia, karena masalah adalah ‘pintu masuk’ untuk belajar dan berpikir, kemudian diniatkan untuk beribadah kepada-Nya

Ketiga, keberanian, bentuk dari tawakkal guru karena kekuatan dan ilmunya dalam menghadapi permasalahan pembelajaran. Dipastikan, tidak ada pembelajaran yang luput dari problem. Dengan istqomah, guru mampu menegakkan kebenaran tanpa ada rasa takut, guru mampu mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Solusi yang ditawarkan ‘win-win solution’, tidak ada pihak yang dirugikan oleh solusi tersebut. Semua pihak antusias untuk menjalan solusi yang ditawarkan guru. Oleh karena itu, guru meyakini bahwa keberanian melalui tawakkal tidak akan pernah terwujud kecuali diringi dengan kekuatan hati dan pikiran dan keyakinan terhadap wujud pertolongan Allah.
Keempat, kenyucian diri, ketika hati dan jiwa ‘sepakat’ untuk melakukan yang terbaik untuk siswa dengan menjalan semua aturan yang sudah ditetapkan, maka langkah yang diambil dalam penyucian jiwa ini selalu muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.), bukan merasa diawasi dan dicatat oleh perangkat teknologi (baca- aplikasi presensi online)

Kemudian, memperhatikannya dengan kritis dan penuh perhitungan ketika melaksanakan pembelajaran, semua langkah yang dikerja terukur dan bisa dipertanggung jawabkan, karena seandainya jiwa dibiarkan ‘kosong’, maka guru akan melaksanakan tugas ‘seenaknya’, datang ke kelas, ‘ceramah sebentar, memberi tugas dan selesai. Kewajiban sudah terpenuhi dan langsung ‘mengisi laporan kinerja’.

Jadi, guru yang berjiwa istiqamah akan sentiasa berbuat kebajikan, nasihat-menasihati dan tidak mudah berputus asa serta sabar dalam melaksanakan pembelajaran dan berusaha mengarahkan hati untuk berjuang melawan tuntunan nafsu dan sifat malas yang merupakan ‘penyakit paling mematikan’ dalam proses pembelajaran. Semoga!

Penulis : Amri Ikhsan, Pendidik di MAN 1 Batanghari

Previous Post

Presiden Jokowi Dorong Pemanfaatan dan Realisasi Dana Desa Tahun 2022

Next Post

Al Haris Jadikan Seberang Kota Sebagai Kampung Wisata Religius

Next Post

Al Haris Jadikan Seberang Kota Sebagai Kampung Wisata Religius

Bersama Gubernur, Kapolda Jambi Dampingi Kunker Dirut Pertamina

Layanan Mobile X-Ray Pemeriksaan TB Diperlukan Ke 7 Provinsi

PSSI Hadiri Kongres FIFA ke-72 di Qatar

Wali Kota Fasha Harap Gedung Baru Mapolresta Jambi Akan Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

Discussion about this post

Pencarian

No Result
View All Result

Indeks

Oktober 2026
MSSRKJS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Sep    
  • Zhangye Danxia Geological Park, Gunung Pelangi yang disebut dalam Al Quran Surat Al Fathir ayat 27 (Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel)

    8 Fenomena Alam Terunik di Dunia yang Ada dalam Al-Qur’an

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantun dan Seloko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Falsafah Jawa Tentang Kehidupan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Terima Dimarahi dan Sakit Hati, Alasan Pelaku Habisi Nyawa Plt Kepala BPBD Merangin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 2 Orang Dituding Memilih Tanpa KTP, 280 Warga di Kotobaru Harus PSU

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polsek Pemayung Berhasil Amankan 3 Tahanan yang Kabur dari LPKA Muara Bulian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buruan…Satpol PP Kota Jambi Buka Lowongan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yamaha Filano Hybrid-Connected Kini Tampil dengan Warna Baru yang Berkelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Dr. dr. Hj. Nadiyah Maulana, Sp.OG Rektor Wanita Pertama di Jambi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bangun Kolaborasi dengan KCBN Muaro Jambi, Wali Kota Maulana Inisiasi Bus Listrik Wisata Dukung Green Tourism di Jambi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Cahaya Baru Masyarakat Jambi

© 2023 Sinar Jambi - Jalan Lingkar Selatan II, RT 28, Blok B-8, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi. Developed by Ara.

  • BERANDA
  • KODE ETIK
  • PEDOMAN
  • REDAKSI
  • PERLINDUNGAN
  • DISCLAIMER

Media Sosial

No Result
View All Result
  • BERITA
  • BISNIS
  • KRIMINAL
  • POLITIK
  • JAMBI KITA
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUAROJAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAIPENUH
    • TANJAB BARAT
    • TANJAB TIMUR
    • TEBO
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • RAGAM