Problem Solving Policing : Menyelesaikan Masalah Secara Proaktif Tanpa Menimbulkan Masalah

Minggu, 27 September 2020

()

sinarjambi.com - Polisi melalui pemolisiannya bertujuan untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial. Pemecahan masalah yang dilakukan polisi tentu dimaknai lebih luas dalam konteks pencegahan atau lebih pada tindakan preemtif dan preventif. Walaupun dapat juga dikaitkan dengan mengatasi masalah saat kejadian.

Pemolisian yang proaktif yang mampu memecahkan masalah dapat dikatakan sebagai upaya pencegahan. Makna proaktif adalah tetap bekerja ada atau tidak ada masalah. Analoginya mnrt prof sarlito alm seperti PLN bekerja bukan hanya saat listrik mati karena menjaga agar listrik tetap hidup dan saat listrik mati mampu mengatasi dengan cepat.

Demikian halnya dengan problem solving policing yangg secara proaktive menjaga keteraturan sosial dengan terjaminnya keamanan dan rasa aman untuk mendukung produktivitas masyarakat.  

Problem solving policing dilakukan berbasis pada sistem data pada komunitas maupun lalu lintas. Langkah langkah menerapkan problem solving policing di era digital melalui sistem-sistem back office sebagai operation room sabagai pusat komando pengendalian, monitoring, komunikasi dan informasi.

Dengan berbagai sistem aplikasi yang merupakan inputing data system yang berbasis artificial intellegent dangan net work yang berbasis internet of things. Sistem-sistem online yang saling terhubung sebagai bentuk implementasi e policing pada komunitas dibangun:

1. sistem peta digital, 

2. sistem data warga masyarakat, 

3. sistem pemantauan pada tempat tempat publik

4. Sistem patroli kawasan atau patroli komunitas

5. Sistem kunjungan komunikasi warga

6. Sistem call and comand centre ( contoh 110, dsb)

7. Punnic botton atau tombol darurat

8. Pola penanganan masalah emergency maupun kontijensi.

9. Sistem pencerahan atau dikmas 

10. Membangun kemitraan dalam wadah forum atau kelompok-kelompok kemasyarakatan

11. Pemberdayaan babinkamtibmas dan pos polisi

12. Membangun program-program kemitraan dan kemasyarakatan seperti kampung tertib, gerakan moral dari rumah 

13. Menerapkan rekayasa sosial / social engineering dan sebagainya

 

Pola pengamanan pada lalu lintas dapat mengacu pada road safety policing. Atau memberdayakan sistem IT for road safety. Road safety policing. 

Di era dogital implementasi e policing pada fungsi lalu lintas diimplementasikan melalui IT for road safety antara lain sebagai berikut :

1. Tmc ( traffic management centre) untuk mendukung road safety management

2. Ssc ( safety and security centre) untuk mendukung safer road

3. Eri ( elecyronic registration and identification) untuk mendukung safer vehicle

4. Sdc ( safety driving centre) untuk mendukung safer people

5. Intan ( intellegent traffoc analysis) untuk mendukung post crash care

6. Tar ( traffic attitude record)

7. Dmps ( de merit point system)

8. Smart management

9. Literasi road safety

10. Road safety coaching

11. Irsmm ( intellegent road safety media management)

12. Algoritma road safety

 

Adapun program program pemerintah yang dapat didukung antara lain :

1. Erp ( electronic road pricing)

2. Etc ( electronic toll collect )

3. E parking

4. E samsat

5. E banking

6. Etle ( electronic traffic law enforcement) 

Kesemua program tersebut bukan tujuan melainkan cara untuk mendukung pencapaian tujuan keteraturan sosial yaitu adanya keamanan dan rasa aman warga masayarakat.

Masyarakat dapat beraktivitas atau melakukan kegiatan untuk menghasilkan produktifitas tanpa hambatan. Kalaupun ada hambatan gangguan dapat segera teratasi.

Lalu lintas aman selamat tertib dan lancar. Meningkatnya kualitas keselamatan dan menurunnya tingkat fatalitas korban kecelakaan.

Terbangunnya budaya tertib atau patuh hukum. Polisi dg pemolisiannya mampu memberikan pelayanan prima di bidang : keamanan keselamatan administrasi hukum informasi maupun kemanusiaan.

Pemolisian yang proaktive dan problem solving standar keberhasilannya dapat dilihat dari algoritma kamtibmas atau tingkat keteraturan sosial yang ada dalam masyarakat :

1. Tingkat kualitas keamanan dan rasa aman warga masyarakat baik dalam komunitas maupun berlalu lintas

2. Terjaminnya keamanan dan rendahnya tingkat kriminalitas maupun rendahnya pelanggaran 

3. Tingkat keselamatan lalu lintas

4. Tingkat ketertiban dan kepedulian warga masyarakat maupun stake holder lainya dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

5. Tingkat kelancaran lalu lintas

5. Tingkat kecepatan penanganan laporan atau aduan masyrakat / quick response time

7. Menurunnya tingkat fatalitas korban kecelakaan

8. Terbangunnya citra atau image polisi dan pemolisiannya

9. Kualitas pelayanan kepolisian yang berstandar pelayanan yang prima di bidang:

a. Pelayanan keamanan

b. Pelayanan keselamatan

c. Pelayanan hukum

d. Pelayananadministrasi

e. Pelayanan informasi

f. Pelayanan kemanusiaan

Tingkat kualitas problem solving policing yang proaktif pengukuranya ditunjukkan melalui algoritma yang berbasis info grafis info statistik info virtual yang on time real time dan any time. 

 

Penulis : Brigjen Pol Prof.Chryshnanda Dwilaksana





BERITA BERIKUTNYA
loading...